2013
2013, sekarang tahun
itu sangat melekat dalam pikiranku. Bukan karena ada hari spesial yang terjadi,
bukan juga karena hari peringatan apapun. Itu semua dikarenakan karena adanya
kurikulum baru, yaitu Kurikulum 2013.
Kalian
pasti tahu kan kurikulum itu?, Ya kurikulum 2013 adalah suatu kurikulum yang
dibentuk untuk mempersiapkan lahirnya generasi emas bangsa Indonesia,
dengan sistem dimana siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar, katanya.
Semua materi pelajaran diganti. Guru-guru bingung, murid pun juga jadi bingung.
Semenjak adannya kurikulum tersebut, aku jadi jarang
main. Tugas, tugas, dan tugas. Itulah acara hariannya. Jadi ngrasa mirip
menteri atau pegawai pemerintahan, super duper sibuk. Ah, saking sibuknya aku
jadi lupa kenalan sama kalian.
Ehem, kenalin namaku Miko Ardhatama sering
disapa Miko. Aku kelas X IPA 2 SMA Negeri 1 Yogyakarta. Anak bungsu dari tiga
bersaudara. Kedua kakakku laki-laki, dan sekarang mereka kuliah. Namanya Rio
dan Dimas. Jadi aku sekarang seperti anak tunggal, dirumah sendirian.
******
Senin,
05.01
Hari
sudah pagi, cahaya mentari telah menerobos kedalam kamar gelapku lewat
lubang-lubang kecil yang menempel dijendela. Akupun terbangun dari tidur
lelapku yang sangat menolongku menghilangkan semua penat pelajaran yang telah
menyita waktuku.
Aku
harus bangun, harus semangat, harus ikhlas menjalani semuanya, seperti kata Pak
Kepala Sekolah waktu itu. “Semua pekerjaan harus dilandasi rasa ikhlas”,
kata-kata itu terus terngiang dalam pikiranku, berusaha aku cerna, aku amati,
dan aku hayati sebaik dan sebenar mungkin. Ya, mungkin ada benarnya juga
kata-kata itu, tapi terkadang susah menjalaninya.
Ah,
waktunya mandi, siap-siap ke sekolah ketemu ketiga sohibku. Kukenakan baju
kebanggaanku, putih abu-abu dengan sepatu kinclong, dandanan rapi layaknya anak
teladan di sekolah.
Pukul
05.59
“Makan
dulu Mik!”, seru ibuku dari dapur.
“Iya,
bentar”, ucapku dari dalam kamar sambil mengenakan dasi. Sisiran, hp boleh
lupa, tapi sarapan tetep utama.
********
Pukul
06.23
Kulangkahkan kakiku keluar rumah
menuju ke gerbang ilmu, tempat semua orang bisa jadi pandai (bagi yang niat).
Kukayuh sepeda ontelku dengan semangat membara dan bergebu-gebu layaknya
seorang pahlawan yang ingin pergi perang, menantang pelajaran layaknya seorang
musuh yang harus dikalahkan.
Ryan dan Nico sudah menungguku
dipintu gerbang, “nah mana si Ardi kok absen?”,tanyaku kepada Ryan dan Nico.
“Ardi?,
biasa nyontek PR si Anin.”, jawab Nico.
“Ah,
anak itu masih aja males, padahal kan gurunya, be...”, ucap Ryan.
“Iya
ni, Ardi malesan, padahal aku udah selesai. Eh Yan kapan kita ngerjain Makalah
Biologi. Keburu telat nih?”, tanyaku kepada Ryan.
“Ah,
aku juga pusing dikali bingung nih. Mana Bahasa Inggrisku belum lagi. Hadeh,
baru kurikulum 2013 aja udah kaya gini, trus nanti gimana kurikulum 2014, 2019
dan kurikulum 2021. Jadi apa ya anak cucuku nanti. Kasihan.”, keluh Ryan.
“Santai
aja bro, aku juga belum ngerjain kok, hehe”, ucap Nico.
“Alah
Nic, sama aja.”, ucapku.
********
Teetttt...bell
berbunyi.
Langkah kaki semakin cepat menuju ke
ruang utama pembelajaran, yaitu kelasku, X IPA 2. Berharap Bapak/Ibu Guru belum
datang mendahului muridnya yang sedikit terlambat.
Huh, untung aja belum datang, aman.
Lalu terdengar langkah kaki tegas dan berwibawa menghampiri kelasku, semua
siswa yang gaduh seketika menjadi sunyi bak kuburan. Berharap kata itu tak
terucap. Kata yang membuat semua siswa jadi bingung, takut, atau apalah itu.
Tapi kecuali si dia, gadis yang duduk didepan meja guru, dengan rambut hitam
panjang yang selalu diurai. Tenang, kalem, sopan, baik, cantik, plus pinter. Namanya Amanda Putri atau
sering disapa Manda, tapi sayang kurangnya cuma satu, kurang rame, dia itu
orangnya pendiem banget.
“Sudah
selesai kan materi pembelajaran BAB 1?”, tanya Guru Bahasa Indonesia.
“Belum
Pak.”, jawab salah seorang temanku.
“O,
kalau begitu ya sudah, kita ulangan saja”, ucap Sang Guru.
“Loh
Pak, kan belum selesai.”, ucap Ryan. “Iya Pak.”, imbuh Nico
“Ingat,
kurikulum 2013 harus siswanya yang aktif, harus siap, karena itu juga ada
penilaiannya sendiri”, ucap Pak Guru.
Murid-murid
tak bisa berkata apa-apa lagi alias kalah mutlak. Akhirnya jadi ulangan.
Istirahat
tiba, waktunya ke kantin. Makan, makan asik. Nambah tenaga biar kuat, pikiran
sehat.
“Dhi,
ayo ke kantin”, ucapku mengajak Ardhi yang masih sibuk menyalin tugas.
“Nanggung
nih.”, ucap Ardhi.
“Dilanjutin
nanti aja bro, ayo makan dulu!”, ucap Ryan.
“Ayo
Dhi!Emm...in..sana in..in....corporsano?”, ucap Nico terputus-putus.
“Ha?Insana?,
buat apa?”, tanya Ardhi.
“Buat
apa. Itu istilah yang badan sehat, jiwa sehat itu lho.”, jelas Nico.
“Hei
Nic yang bener itu Mens Sana in Corporisano, bukannya Insana Capucino.”, ucapku
membenarkan perkataan Nico.
Karena perut Ardhi juga sudah
keroncongan, akhirnya mereka berempat mengisi perut mereka masing-masing sampai
kenyang. Saat mereka baru menghabiskan setengah makanan yang telah mereka beli,
tiba-tiba, “Teetttttt....teetettt”, bunyi bell masuk tiba. Miko, Nico, Ryan dan
Ardhi makan dengan terburu-buru.”Ah, harusnya jam istirahat ditambah, telat,
telat deh masuk kelas. Maaf ya Pak Guru jika nanti saya telat. Bukan maksud
saya berbuat yang tidak sopan/kurang baik, tapi ini juga penting.”, ucap Nico
panjang lebar sambil menelan makanan.
********
15.00
Akhirnya tiba, wajah lesu bangkit tegar
dengan senyum kecil penuh ketidaksabaran untuk pulang lagi kerumah sembari
mengerjakan tugas yang terus datang lancar tanpa halangan suatu apa.
Waktunya pulang, nggak bisa lagi deh
lihat Manda, harus nunggu besok. Em...diem-diem aku suka sama Manda, walau
pendiem tapi dia itu sebenarnya baik, cuma kita aja yang belum kenal dekat ama
dia. Doakan saja bisa lebih dekat.
Kukayuh sepeda ontelku dengan
semangat 45 berharap makanan enak tersaji diatas meja makan. Kuletakkan tas,
kulepas sepatu kinclongku lalu menuju kursi, tapi tiba-tiba, “Stop!. Ganti pakaian
dulu baru makan”, ucap ibu menasihati. “Ah, mana keburu laper lagi, eh malah
suruh ganti baju dulu. Sabar ya perutku tersayang.”, ucapku sambil memegang
perut yang lagi konser.
*********
Hari demi hari kulewati, tugas demi
tugas kujalani, uang demi uangku telah lari pergi meninggalkan dompet lusuhku.
Kini aku mulai terbiasa, terbiasa dengan kurikulum 2013. Tapi terkadang diriku
masih saja terus mengeluh. Entah pada bapak/ibu guru, atau kepada orang tuaku.
Penasaran, itulah yang aku ingin
tahu tentang Amanda. Gimana ya ?, apa ia nggak pernah ngeluh, apa ia selalu
senang menjalankan kurikulum ini?. Ingin aku bertanya, tapi.....itulah
masalahnya, dia itu pendiem, super duper pendiem.
***********
Kali ini aku ingin naik bus,
tujuannya sih biar bisa ketemu sama Manda(kalau bisa). Kutinggalkan sepedaku
dan berjalan menuju halte bus. Setelah menunggu sekitar 2,5 menit akhirnya
kendaraan beroda empat itu pun datang.
Aku pun masuk lewat pintu depan,
melihat kanan kiri seraya mencari seorang cewek yang bernama Manda. Tapi sayang
aku tidak beruntung, Mandanya nggak ada, alias zonk. Nyesel, nyesel sih, tapi nggak papa lah, ikhlas.
Ditengah jalan, bus pun berhenti, biasa
ada penumpang. Aku yang saat itu lagi asik buka BBM nggak tau siapa yang baru
saja naik dan duduk disampingku. Aku sih cuek.
Saat itu orang yang sedang duduk
disampingku sedang mengambil buku dan pensilnya dari dalam tas, dan tanpa
sengaja pensil yang ia ambil jatuh di depanku. Kubantu dia mengambil pensilnya,
dan saat aku menoleh sambil memberikan pensil itu, tiba-tiba wajahku menjadi pucat, panas dingin, gemetar jadi
satu, dia Manda. Cewek pintar nan cantik yang selalu aku ceritakan kini duduk
disampingku. Ya Allah ngimpi apa aku semalem. Dan dia ternyata selama ini tau
dan kenal aku. “Makasih Mik”, ucap Manda kepadaku.
“Iya.”,
jawabku lembut dan canggung.
“Eh,
hari ini tugasnya cuma BI, Fisika, Biologi, sama Sejarah Indonesia kan?”,
tanyaku kepada Manda.
“E...iya
tapi Bahasa Inggris juga ada, halaman 23,24,25”, jawab Manda.
“O...”,
jawabku sok tenang. Padahal belum aku kerjakan sama sekali.
Setelah sampai di halte bus dekat
sekolah, kami pun turun. Aku pun berjalan perlahan dibelakang Manda, bak seekor
semut yang sedang memikul makanan berat dipundaknya. Manda pun hanya terdiam
seribu kata tanpa menoleh ke arahku.
Belum juga puas berada didekat
Manda, Ardhi yang biasanya nyontek PR, muncul mengagetiku dari belakang. Amanda pun kini
pergi menjauh, jauh, sampai di gerbang sekolah.
“Ah,
Ardhi ngganggu aja. Tumben kamu nggak nyontek PR.”, ucapku kepada Ardhi.
“Aku
kan sudah berubah, sekarang moto hidupku adalah yesterday is history, tomorrow is mysteri, and today is a gift”,
ucap Ardhi .
“Halah.”,
ucapku kesal sambil berlari mengikuti Manda.
*********
09.34
Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan, Pak Guru menyuruh siswa untuk membuat kelompok minimal 3 orang,
dan aku ternyata satu kelompok sama Manda dan Ryan. Untung besar, ada yang
pinter. Kami pun berdiskusi, menentukan pokok masalah dan penyelesaian atas
masalah tersebut. Aku dan Manda saling bertukar pendapat, memilah dan memilih
mana yang baik. Yang nantinya akan disepakati bersama. Sementara Ryan malah
asik main hp.
Sejak saat itulah aku dan Manda
mulai dekat. Kedekatan kami pun bukannya kedekatan yang tidak bermanfaat,
justru sebaliknya. Kami saling membantu dalam pelajaran, sering bertukar
pikiran lewat diskusi, entah itu tugas atau kemauan sendiri. Kadang jika aku
tidak mengerti tentang materi pelajaran,
sekarang aku langsung saja tanya pada Manda. Begitu juga dengan ketiga sohibku
yang turut mendapatkan imbasnya. Walaupun terkadang juga aku menggunakan alasan
itu untuk lebih dekat lagi dengan Manda.
*********
11.53
Adzan Zuhur berkumandang, seketika
itu aku mengajak Ryan, Ardhi, dan Nico sholat ke mushola sekolah. Jaraknya sih
lumayan jauh dari kelasku, tapi demi pahala apa sih yang enggak?. Antrian wudhu
sudah terlalu banyak dan panjang, sampai-sampai menutupi jalan menuju mushola.
“Subhanallah, warga sekolahku keren, mengantri menuju surga Illahi.”, ucap
Nico.
*********
23..58
“Pemirsa
yang berbahagia, inilah berita hari ini. Sejak ditetapkannya Joko Widodo
sebagai Presiden Indonesia terpilih, semua menteri pun berganti. Dan kurikulum
2013 yang baru saja diterapkan kabarnya pun juga akan diganti. Ada siswa yang
bahagia dengan kabar ini dan tak sedikit juga yang merasa kecewa. Sekian
laporan dari kami, terimakasih.”, ucap presenter berita.
“Ha?,
beneran kurikulum 2013 diganti?, Allhamdulillah Ya Allah.”, ucapku senang.
Bukan hanya aku saja, orang tuaku yang juga ikut nonton tv pun juga merasakan
energi kebahagiaan tersebut.
Aku pun segera menelpon Ryan, Nico,
dan Ardhi mengabari berita membahagiakan tersebut. “Eh Bro, Kurikulum 2013
bakal dihapus lagi.”, ucapku mengabari ketiga sohibku.
03.00
“Kring....kring...”, bunyi jam beker
kamarku. Aku pun terbangun dari tidur lelapku, dan ternyata yang semalam itu hanya
mimpi semata. Harapanku pun musnah. Kurikulum masih berlanjut. Dan sekarang
waktunya ngerjain tugas lagi. Dicicil sedikit demi sedikit sambil nunggu
matahari nongol.
***********
04.21
Mendengar adzan Subuh, aku pun
segera mandi membersihkan diri, mengambil sarung dan sholat berjamaah di
masjid. Berdoa agar tetap diberi ketabahan dan keikhlasan untuk menjalani hidup
yang singkat didunia yang fana’ ini. Dan juga berdoa agar aku dapat menyatu
dengan kurikulum ini. Amin....
05.01
Aku
pun pulang, tentu saja kerumah. Makan, mandi lagi, dan berangkat ke sekolah
dengan sepeda ontelku. “Witing tresno
jalaran soko kulino, kurikulum 2013.”, niatku sebelum berangkat.
SELESAI
EmoticonEmoticon